Filsafat Maulana Jalaluddin Rumi



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Pendahuluan

Berbicara tentang seorang tokoh sufi sudah cukup banyak tokoh yang populer dibicarakan atau diteliti, demikian juga konsep tasawuf mereka. Seperti halnya dalam berbagai segi keindahan ungkapan spiritual yang telah banyak tertuang dalam karyanya, misalnya ‘Abd al-Kariim al-Qushayri (w. 465 H), Abu Yazid al-Bistami (w. 261 H) , Junayd al-Baghdadi (w. 297 H), al-Hallaj (w. 309 H) , Rabi’ah al-‘Adawiyah (w. 185 H) dan lainnya. Dari para tokoh tasawuf ini, cinta berkembang sampai abad ke 13-17 M, sastra sufi mulai mendaki puncak perkembangannya dalam kesusastraan Arab dan Persia. Sehingga melahirkan banyak puisi sufistik yang berasal dari Persia diantaranya Jalal al-Diin al-Rumi. Muhammad Jalal al-Din al-Rumi Muhammad bin Hasin al-Khattabi alBalkhi atau lebih dikenal dengan sebutan Jalal Al-Din Al-Rumi, Mulla ye Roum dan Mawlawi ye Rumi, akan tetapi para penulis tidak sama dalam menyebutkan urutan nama diri, nama kehormatan bahkan nama panggilan tokoh ini.

 Beliau lahir pada tahun 604 H/ 1207 M dan wafat pada tahun 672 H/ 1273 M. Ia merupakan seorang penyair sufi yang lahir di Balkhi . Bahkan ia salah satu dari sekian penyair dan tokoh sufi yang mampu menciptakan gelombang kata-kata yang sangat menyentuh hati, berbagai pikirannya dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan kepada Allah. Demikian pendapat Rumi tentang makna cinta yang sesungguhnya ialah cinta yang mampu memelihara apa yang dicinta, serta dapat merubahnya ke arah yang lebih baik. Sehingga dari berbagai macam karya sastranya Jalal al-Din al-Rumi banyak menggambarkan sebuah ziarah spiritual yang ingin dilaluinya guna menemukan titik puncak ekstase penyatuan antara dirinya dengan yang dicintainya, yaitu Allah SWT. Jadi tidak heran jikalau cinta menjadi tema sentral di dalam karya-karyanya. Sementara itu, dengan dasar cinta pulalah Jalal al-Din al-Rumi banyak membangun pondasi epistimologi sufinya yang banyak tertuang dalam bentuk prosa dan sya‟ir-syair. Sehingga sangatlah mudah menemukan ajaran-ajaran cinta dalam setiap sya‟ir-sya‟ir yang tertulis dalam Matsnawi, Fihi Ma Fihi dan Diwani-Syam-I Tabriz dan buku lainnya. Demikian hadirnya kitab tersebut memiliki tujuan untuk memberikan tarbiyah rohani pada manusia supaya mereka dapat mengikuti apa yang dikehendaki Sang Khaliq pemilik semesta dan jagat raya.[1]

Maulana Jalaluddin Rumi awalnya adalah seorang ulama dan ahli hukum Islam Persia yang memiliki banyak murid dari berbagai kalangan. Kemudian ia beralih mengubah jalan hidupnya, yaitu memilih untuk melabuhkan hatinya untuk mendalami tasawuf. Ia merasa bahwa kekayaan intelektualnya tidak membuat manusia menjadi lebih baik. Karena baginya, manusia hanya akan berubah jika sudah berhasil hanyut dalam cinta Tuhan.

Melalui jalan tasawuf manusia akan menyucikan jiwanya agar menjadi manusia yang sempurna. Hingga pada akhirnya ia menjadi seorang sufi besar dan penyair legendaris sepanjang masa. Uniknya, ia kerap menyenandungkan syairnya dalam keadaan bergairah dimabuk ruhani sehingga sajak-sajaknya penuh dengan sentuhan ilham dari Tuhannya. Alhasil, Jalaluddin Rumi berhasil menciptakan syairsyair yang menggetarkan hati manusia. Setiap katanya menjadi gelombang sunami yang selalu menenggelamkan manusia untuk menyadari kehidupan yang hakiki, mengajak manusia untuk mendalami hakikat Tuhan sehingga mengetahui tujuan hidupnya yang penuh dengan  kebebasan dan kemuliaan. Pada intinya, yang ingin disampaikan oleh Jalaluddin Rumi adalah cinta sebagai penunjuk untuk memahami dunia bukan akal, karena satu-satunya tujuan manusia adalah Tuhan. Sedangkan untuk menyelami Tuhan, akal tidak akan bisa diandalkan. Perlu hati yang bersih dari kotoran debu duniawi untuk sampai menggapai cinta Tuhan.

Rumi dianggap sebagai penunjuk jalan ruhani yang mendapatkan misi untuk menebar solusi bagi permasalahan manusia, ia menjawab segala pertanyaan rumit tentang kerusakan moral manusia yang diakibatkan karena hatinya tertutup oleh tumpukan debu nafsu binatang sehingga melupakan hakikatnya sebagai hamba ciptaan Tuhan. Sampai saat ini karya-karya agungnya menjadi warisan budaya dunia Islam yang masih dikaji oleh seluruh pemikir Islam maupun pemikir Barat.[2]Kaum nasrani memandang Jalaluddin Rumi sebagai jelmaan Nabi Isa, begitupun bagi kaum Yahudi yang melihat Jalaluddin Rumi sebagai Nabi Musa. Hal ini disebabkan karena bahasa cinta dalam syair Rum menyentuh seluruh lapisan manusia dan agama. Bahkan murid-muridnya memuji Jalaluddin Rumi sebagai jendela untuk melihat sosok nabi Muhammad dan Tuhannya.[3]

Pada abad modern ini, seiiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi atau biasa disebut sebagai IPTEK, hal ini menjadi fokus perhatiap kebanyakan orang. Bahkan, hal ini menjadi minat setiap peradaban untuk terus meningkatakan IPTEK tersebut.[4] Namun, IPTEK yang didasari pengalaman rasio atau kecerdasan pikiran, sehingga menafikkan aspek lain dari esensi manusia yaitu jiwa. Karena jiwa atau aspek batiniah manusia juga harus diperhatikan untuk keseimbangan individu seseorang.[5] Oleh sebab itu, problem umat saat ini adalah aspek jiwa atau batiniyah manusia yang tidak terlalu diperhatikan. Selain itu, menurut maninger, manusia adalah makhluk sosial yang hidup saling mencintai. Namun, pemahaman cinta yang dimengerti masih rancu, karena mereka memahami “cinta” hanya sebagai cinta bilogis, seperti cinta laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya. Selain itu, cinta yang dimaksud hanya seperti kasih sayang bapak kepada anaknya dan sebaliknya. Dan masih banyak lagi. Oleh sebab itu, cinta yang hakiki bukanlah cinta secara biologis.3 Karena, dari cinta bilogis tersebut hanya akan menimbulkan masalah, sebagaimana cinta anak remaja saat ini yang berakhir bunuh diri dan lain sebagainya. Cinta yang dialami anak remaja tersebut berlandasakan hawa nafsu sesaaat, sehingga capaiannya juga hanya bersifat sesaat. Namun, tidak seperti cinta kepada Sang Khaliq yang bersifat selamanya. Oleh sebab itu, cinta yang hakiki atau mahabbah yang dimaksud Rumi akan menimbulkan maslahat baginya.

Cinta menurut Rumi bukanlah hal yang mudah untuk didefinisikan ataupun untuk dicapai. Karena sumbernya bukanlah akal ataupun rasio. Bukan seperti filsafat yang murni menggunakan akal, [6]namun itu adalah pengalaman pribadi sebagaimana tasawuf atau pengalaman spiritual seorang sufi. Hal ini disampaikannya pada sebuah sya’ir,“Cinta tak ada hubunganya, dengan panca indra dan enam arah, tujuan, akhirnya hanyalah daya tarik, yang dipancarkan oleh Sang kekasih”.[7] Oleh sebab itu, mahabbah adalah pengalaman pribadi yang dicapai langsung tanpa perantara. Cinta tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata secara pasti karena uraian apapun tentang cinta tidak lebih terang pemaknaannya dari cinta itu sendiri. Melalui karya-karyanya, Jalaluddin Rumi berusaha memberikan arahan tentang makna dari “cinta” melalui syair-syair ciptaannya. Setiap manusia pasti pernah merasakan cinta, maka dalam hal ini Jalaluddin Rumi berusaha memberikan pengertian yang benar tentang makna dari “cinta”. Namun, dalam karya-karyanya Rumi tidak menjelaskan dengan gamblang mengenai apa itu cinta, dia lebih sering menggunakan perumpamaan perumpamaan dari hal-hal yang dapat dilihat dan dirasakan olehnya.[8]

B.     Rumusan Masalah

1.      Siapakah maulana jalaluddin rumi itu?

2.      Bagaimana konsep filsafat cinta yang di kampanyekan jalaluddin rumi?

3.      Bagaimana filsafat teologi sufi jalaluddin rumi?

4.      Bagaimana pandangan jalaluddin rumi terhadap manusia ?

5.      Bagaimana pandangan jalaluddin rumi tentang filsafat pendidikan?

C.     Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengenal Siapamaulana jalaluddin rumi

2.      Untuk mengetahui Bagaimana konsep filsafat cinta yang di kampanyekan jalaluddin rumi

3.      Untuk mengetahui Bagaimana filsafat teologi sufi jalaluddin rumi

4.      Untuk mengetahui Bagaimana pandangan jalaluddin rumi terhadap manusia

5.      Untuk mengetahui Bagaimana pandangan jalaluddin rumi tentang filsafat pendidikan.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Biografi Maulana Jalaluddin Rumi

Nama lengkap Rumi adalah Maulana Jalaluddin Muhammad bi Huss Alkhatbi, namun terkenal dengan nama Jalaluddin ar-Rumi. Nama julukan Rumi ini dikenakan kepadanya karena sang sufi menghabiskan sebagian besar hidupnya di Konya, Turki, yang dahulunya merupakan bagian dari wilayah kekaisaran Rumawi Timur (bangsa Arab menyebutnya ar-Rum). sebuah nama yg sudah tidak asing lagi ditelinga kita lahir pada tahun 1207 M di Balkhi. [9]

Ayahnya bernama Jalaluddin Baha‘uddin Muhammad yang lebih dikenal dengan nama Baha Walad, seorang tokoh ulama dan guru besar dinegerinya waktu itu yang juga bergelar Sultonul Ulama. Sebagai guru berkharisma besar, tidak heran jika fatwanya selalu didengar orang dimana-mana, hal itu memicu rasa iri sebagian orang, mereka lalu mencoba meluncurkan fitnah, dan mengadukannya kepada penguasa. Meskipun demikian simpati orang kepadanya sedikitpun tidak berkurang, pendapat dan fatwanya tetap dijadikan pedoman. Itulah sebabnya penguasa mengisyaratkan agar ia meninggalkan negeri. [10]

 Syekh Bahauddin Walad bersama keluarganya pindah ke Konya di suatu daerah yang bernama Rum (Turki). Setelah menetap dua tahun, dan pada tahun 638 ia meninggal dunia. Karena tinggal di daerah Rum, maka Rumi digelar dengan “Rumi” sedangkan nama aslinya ialah Jalaluddin. Setelah ayahnya meninggal Rumi menggantikan posisi ayahnya dalam bidang pengajaran dan pendidikan di sekolah Khadawandakar. Namun, kedudukan yang cukup tinggi itu tidak menghalangi dia tetap belajar, memperluas cakrawala pengetahuannya dan memperdalam ilmu-ilmunya.

Bertahun-tahun Rumi menikmati ketenaran dan menempati posisi yang sangat terhormat sebagai pemimpin dan ulama ilmu-ilmu agama Islam di Konya, sampai suatu ketika terjadilah peristiwa yang mampu mengubah arus kehidupannya hampir secara drastis. Namun, justru kejadian itu pula yang menyebabkan namanya semakin terkenal dan berpengaruh.

Sebagai seorang sastrawan, sufi, sekaligus ulama, Rumi banyak melahirkan karya. Karyanya dapat dibagi dalam dua jenis, prosa dan puisi. Karya Rumi yang berbentuk prosa terdiri dari tiga karangan, yakni 1), al-Majalis as-Sab‟ah, 2) Fihi Ma Fihi, dan 3) Makatib. Sedangkan karya Rumi yang lainnya sebagian besar ditulis dalam bentuk sya‘ir. Seperti Diwan Syamsi Tabriz. Masnawi Ma‟nawi. Karya Rumi yang paling besar, menyajikan ajaran-jaran mistik Rumi dengan indah dan kreatif melalui sya‘ir-sya‘irnya. Ruba‟iyat, Fihi Ma Fihi, Makatib, Majalis Sab‟ah, himpunan khutbah Rumi di berbagai mesjid dan majlismajlis keagamaan.[11]

B.     Filsafat Cinta Maulana Jalaluddin Rumi

Jalaluddin Rumi sebagi tokoh sufi atau penganut aliran sufistik memiliki pemahaman tentang “cinta atau mahabbah”. Dijelaskan di atas tentang cinta, namun bukan sebagaimana yang dipahami oleh Jalaluddin Rumia. Mahabbah yang dimaksudnya adalah cinta kepada Sang Khaliq, dan bersifat selamanya. Sebagaimana yang disampaikannya, bahwa, cinta dapat merubah pahit menjadi manis, merubah debu menjadi emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, cinta tidak diartikan hanya sesama makhluk. Namun, cinta kepada sang Khaliq (pencipta) haruslah di atas segala kecintaannya terhadap sesama atau lainnya.

Tanpa cinta atau mahabbah, manusia tidak akan bisa merasakan nikmatnya kehidupan, baik cinta kepada sesama atau cinta kepada sang Khaliq. Dalam kehidupan manusia, kita membutuhkan cinta karena dengan cinta, kita bisa menikmati kehidupan baik itu cinta kepada Tuhan maupun cinta kita kepada makhluk-Nya. Bahkan kita sangat tergantung kepada cinta Tuhan bagi makhluk ciptaanNya. Oleh sebab itu, terdapat heirarki cinta, cinta kepada Khaliq dan setelah itu kepada makhluk.[12]

Cinta menurut Rumi bukanlah hal yang mudah untuk didefinisikan ataupun untuk dicapai. Karena sumbernya bukanlah akal ataupun rasio.Bukan seperti filsafat yang murni menggunakan akal,namun itu adalah pengalaman pribadi sebagaimana tasawuf atau pengalaman spiritual seorang sufi.[13] Hal ini disampaikannya pada sebuah sya’ir,“Cinta tak ada hubunganya, dengan panca indra dan enam arah, tujuan, akhirnya hanyalah daya tarik, yang dipancarkan oleh Sang kekasih”.[14] Oleh sebab itu, mahabbah adalah pengalaman pribadi yang dicapai langsung tanpa perantara. Cinta tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata secara pasti karena uraian apapun tentang cinta tidak lebih terang pemaknaannya dari cinta itu sendiri.

Melalui karya-karyanya, Jalaluddin Rumi berusaha memberikan arahan tentang makna dari “cinta” melalui syair-syair ciptaannya. Setiap manusia pasti pernah merasakan cinta, maka dalam hal ini Jalaluddin Rumi berusaha memberikan pengertian yang benar tentang makna dari “cinta”. Namun, dalam karya-karyanya Rumi tidak menjelaskan dengan gamblang mengenai apa itu cinta, dia lebih sering menggunakan perumpamaan perumpamaan dari hal-hal yang dapat dilihat dan dirasakan olehnya.[15]

Cinta bagi Rumi adalah rahasia ketuhanan dan rahasia penciptaan, oleh karena itu, ia tidak bisa didefinisikan, ia juga merupakan rahasia makhluk-makhluk-Nya yang dalam diri manusia disebut dengan potensi rohani yang dapat mengangkatnya naik ke tingkatan tertinggi penciptaan. Seperti yang dikutip oleh Schimmel, bahwa Rumi mengatakan pengalaman mistik dapat membersihkan penglihatan qalbu, sehingga qalbu dapat menyaksikan bahwa wujud hakiki adalah satu, sedangkan yang lainnya hanyalah nisbi, melalui pengalamannya, Rumi mengatakan bahwa yang nisbi akan lenyap oleh cinta dan kefanaan.

Dari semua penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, untuk menjawab permasalahan umat saat ini yang kurang atas perhatian terhadap aspek batiniah atau jiwa seseorang, yang pada akhirnya menimbulkan permasalahan terhadap kehidupan sosial, politik, ataupun konflik yang lainnya. Jalaluddin Rumi sebagai seorang tokoh sufi berusaha untuk menjawab masalah tersebut menggunakan konsep mahabbah. Oleh sebba itu, dalam artikel ini akan dijelaskan konsep mahabbah Jalaluddin Rumi.

C.     Filsafat Teologi Sufi Jalaluddin Rumi

Menurut Rumi ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam meraih ketentraman jiwa. Rumi menyadari bahwa dalam diri manusia ada kekuatan tersembunyi, yang apabila diberdayakan secara sungguh-sungguh, akan dapat memberi kebahagiaan dan pengetahuan yang tidak terkira luasnya, kekuatan tersembunyi itu ialah cinta.

Walaupun dalam garis besar, hampir semua bentuk mistisisme memiliki ciri yang sama, khususnya kecenderungan akan paham keesaan wujud dan monoisme. Berdasarkan kaidah dan titik tolak pencarian masing-masing mistikus, sejumlah sarjana sering mengelompokkannya ke dalam beberapa kategori, misalnya Khalifah Abdul Hakim yang menyebutkan adanya persamaanpersamaan pandangan di antara para mistikus dalam beberapa hal;

 a. hakikat wujud tunggal atau satu.

b. Semua fenomena merupakan aspek dari hakikat yang sama dan setap fenomena menuju pada hakikat yang sama pula.

c. Karena semua wujud fenomenal berasal dari hakikat terakhir, mereka mengembalikan kepada hakikat asal yang sama.

 d. Hakikat wujud yang dapat diresapi dengan nalar dalam peringkat yang tinggi, membuktikan bahwa nalar bersifat komprehensif dan tidak parsial.

 e. Pengetahuan tentang yang hakiki tidak dapat diserap melalui logika, pengamatan bathinlah yang merupakan pembimbing terbaik dalam menyerapnya.

 f. Tujuan utama kehidupan ialah bagaimana seseorang dapat meresapi hakikat pengalaman rohani sebab hanya dengan cara ini, jiwa seseorang dapat bersatu kembali dengan Sang Hakikat.

g. Penglihatan batin disebut dengan ―cinta” sedangkan pengetahuan tentang hakikat melekat dalam cinta.

h. Cinta yang demikian itulah yang merupakan sumber utama semua bentuk moralitas keagamaan dan adab yang tinggi. Tanpa cinta, semua agama dan moralitas akan menjadi formal dan mekanis. Tanpa cinta pula, pikiran akan tetap berada dalam kegelapan, tidak mampu untuk mencapai cahaya Ilahi. [16]

D. Antropologi Filsafat Jalaluddin Rumi

konsepsi manusia dalam pandangan Jalaluddin Rumi, secara garis besarnya dapat dikatakan bahwa Rumi pada dasarnya memandang manusia sebagai sebuah totalitas yang tersusun dari unsur jiwa dan badan. Kedua unsur ini `mempunyai fungsi yang sama-sama penting, namun secara spesifik Rumi menekankan bahwa hakikat manusia yang sebenarnya terletak pada aspek jiwanya. Meskipun pada pembahasan yang lebih detil badan sebagai unsur materi dan jiwa sebagai unsur non materi sama-sama masih mempunyai pembagian-pembagiannya tersendiri. Ilustrasi dualitas seperti ini dapat dikatakan sudah menjadi karakter ilahiah yang mendasar.

Konsep tentang Tuhan sebagai sosok Yang Mahasuci dan Sakral tercerap dalam pengenalan manusia melalui pengalaman keagamaan yang menggambarkan keterpukauan pada sosok yang Mahaperkasa (yang dapat menimbulkan rasa takut) sekaligus Mahaindah (yang menimbulkan ketertarikan dan rasa cinta).[17] Teori ini sangat berkorespondensi dengan tema pembahasan pemikir-pemikir Islam jauh sebelumnya, yang menggadengkan sifat Allah sebagai Jamal (Mahaindah) dan sekaligus sebagai Jalal (Mahaperkasa), Sebagaimana Allah menggambarkan diriNya sendiri.

Selanjutnya aspek dualitas dan dialektika ini menjadi sangat penting dalam penciptaan. Dalam pandangan Rumi, tepat pada titik terjadinya penciptaan kesatuan absolut terpecah menjadi subjek dan objek, atau menjadi Pencipta dan ciptaannya. Menurut Jalaluddin Rumi dualitas ini sangat penting untuk mempertahankan kehidupan agar terus berlangsung. Alam semesta memerlukan pergantian yang teratur dari kutub positif ke kutub negatif, sebagaimana pergantian antara aktifitas menghirup dan menghembuskan nafas, antara siang dan malam, antara hidup dan mati, atau yang disebut dalam filsafat Cina sebagai yang dan yin. Tidak satupun dari kedua kutub kontras ini yang dapat berada tanpa keberadaan kutub pasangannya. Rumi mengajarkan mekanisme pertentangan ini untuk memberikan pemahaman tentang kehidupan serta kemungkinan-kemungkinan tersembunyi yang selalu baru yang lahir dari interaksi pertentangan. Tuhan senantiasa aktif dan menyadari kebutuhan seluruh ciptaanNya, Dia senantiasa mengirimkan pertanda agar manusia mendapatkan pemahaman.

Rumi sering menggunakan nama Adam dalam arti manusia secara umum atau wujud rupa manusia. Syair di atas mengungkapkan bahwa lukisan manusia akan tampak sama seperti sosok manusia. Tetapi pada hakikatnya manusia dan lukisan manusia tidak sama karena lukisan tidak berjiwa. Sama halnya, Nabi Muhammad saw dan pamannya Abu Jahal mempunyai wujud fisik yang sama, bahkan mereka masih satu keluarga jadi tampak mirip wujud rupanya. Tetapi pada kenyataannya mereka sangat jauh berbeda dalam makna dan hakikatnya. Nabi Muhammad digariskan menjadi Rasul terahir dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, sementara Abu Jahal mendapatkan murka Allah dan tetap tidak beriman hingga akhir hayatnya. Dengan syair di atas Rumi menyeru manusia agar menyingkap tabir wujud fisiknya untuk melihat esensi batin yang sangat indah dan berharga.

Metafora yang biasa digunakan Rumi untuk menggambarkan dualitas keberadaan manusia adalah dengan menyebutnya sebagai mahluk yang berwujud separuh lebah dan separuh ular. Dengan substansi wujudnya sebagai lebah, yang bernmakna orang beriman, apapun yang dimakannya akan menghasilkan madu, dengan makna sesuatu yang memberikan substansi kehidupan. Di sisi lain, dengan wujudnya sebagai ular, setiap tindakannya akan menghasilkan racun mematikan yang membahayakan baik dirinya sendiri maupun orang lain. Metafora lain yang biasa digunakan Rumi untuk mengekpresikan kerumitan situasi makhluk yang bernama manusia adalah dengan menyebutnya sebagai “keledai dengan sayap malaikat.[18]

E.filsafat pendidikan jalaluddin rumi

Meningkatkan kualitas pendidikan adalah satu hal yang wajib diperhatikan secara khusus, mengingat bahwa seluruh pendidikan di dunia ini sejatinya sedang bersaing dalam menciptakan wadah yang sesuai dengan kebutuhan dan minat masyarakat yang berbeda-beda. Terdapat perubahan besar pada kebutuhan masyarakat saat ini dalam ranah pendidikan, yakni mutu dan kualitas pendidikan yang modern. Untuk mewujudkannya, maka hal yang paling utama tentunya pendidikan membutuhkan pendidik yang memiliki kompetensi memadai dalam mendidik sesuai dengan perkembangan zaman modern.

Islam memiliki peran penting di dalam dunia pendidikan karena Islam memahami bahwa manusia memiliki dua kehidupan yang akan dialami, yaitu hidup di dunia dan di akhirat. Umat Islam dituntut untuk bahagia dikehidupan dunia begitu pula di akhirat. Memperdalam ilmu adalah langkah yang tepat bagi seorang muslim untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Sehingga bisa disimpulkan bahwa cara untuk selamat di dunia dan di akhirat adalah dengan menempuh jalan pendidikan terutama pendidikan Islam. Unsur hakikat manusia itu sendiri terdiri dari tubuh, ruh dan akal. Manusia perlu menjaga kesehatannya sehingga manusia memerlukan pendidikan jasmani. Sedangkan ruh, untuk menanamkan nilai-nilai Islam manusia memerlukan pendidikan akhlak sehingga manusia dapat bertingkah laku baik dan percaya kepada agama dan Tuhannya. [19]

Kehalusan karakter menjadi keunggulan yang diharapkan oleh seluruh lapisan masyarakat, seluruh negara, bahkan seluruh agama. Khususnya Indonesia sebagai negara yang dikenal sebagai negara yang memiliki toleransi tinggi terhadap agama. Namun Pendidikan di Indonesia harus ditampar oleh kenyataan yang sudah terjadi oleh kasuskasus anak yang beragam macamnya. Manusia modern saat ini hidup serba nyaman sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi manusia mengalami dahaga jiwa yang amat besar. Sehingga manusia sekarang kehilangan makna cinta yang sebenarnya. Bagi Erich Fromm cara yang paling berpengaruh adalah dengan mengembalikan makna cinta yang selama ini hilang pada orang-orang modern. Maka artinya, pendidikan islam membutuhkan solusi dalam mengatasi persoalan masyarakat modern yang sedang dihadapi saat ini.[20]

Setiap insan yang dilahirkan di dunia ini, sudah selayaknya membutuhkan peran orang lain. Oleh karena itu, sejak kecil manusia sudah membutuhkan peran pendidik, baik yang bersifat material maupun spiritual. Pendidikan cinta perlu ditanamkan kepada murid agar murid memahami bahwa kesabaran menuntut ilmu adalah jihad sebagai perjuangan batin. Setiap perjuangan akan dihadapkan dengan banyak kesulitan, salah satunya adalah murid harus mampu menumbuhkan dalam hatinya perasaan mencintai kepada pendidiknya. Jika murid tidak mencintai gurunya, maka akan menyebabkan murid enggan mempelajari materi yang diajarkan, malas mendengarkan penjelasan guru, sehingga murid dengan santainya memperlihatkan emosi yang tidak stabil, bahkan berani memberikan komentar dan kritik yang tajam.[21]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdsarkan pemaparan materi diatas, maka penulis menarik sebuah kesimpulan, diantaranya:

1.      Nama lengkap Rumi adalah Maulana Jalaluddin Muhammad bi Huss Alkhatbi, namun terkenal dengan nama Jalaluddin ar-Rumi. Nama julukan Rumi ini dikenakan kepadanya karena sang sufi menghabiskan sebagian besar hidupnya di Konya, Turki, yang dahulunya merupakan bagian dari wilayah kekaisaran Rumawi Timur (bangsa Arab menyebutnya ar-Rum).

2.      Cinta menurut Rumi bukanlah hal yang mudah untuk didefinisikan ataupun untuk dicapai. Karena sumbernya bukanlah akal ataupun rasio.Bukan seperti filsafat yang murni menggunakan akal,namun itu adalah pengalaman pribadi sebagaimana tasawuf atau pengalaman spiritual seorang sufi.

3.      Menurut Rumi ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam meraih ketentraman jiwa. Rumi menyadari bahwa dalam diri manusia ada kekuatan tersembunyi, yang apabila diberdayakan secara sungguh-sungguh, akan dapat memberi kebahagiaan dan pengetahuan yang tidak terkira luasnya, kekuatan tersembunyi itu ialah cinta.

4.      Meningkatkan kualitas pendidikan adalah satu hal yang wajib diperhatikan secara khusus, mengingat bahwa seluruh pendidikan di dunia ini sejatinya sedang bersaing dalam menciptakan wadah yang sesuai dengan kebutuhan dan minat masyarakat yang berbeda-beda.



[1] Jalaluddin Rumi, Fihi Ma Fihi:Mengarungi Samudera Kebijaksanaan, terj. Forum (Yogyakarta: Forum, 2017), hal. 17-19.

[2] Jalaluddin Rumi, Matahari Diwan Syams Tabrizi (Terbang Bersama Cahaya Cinta dan Duka Cita), (Yogyakarta: Forum, 2018), hal. 3

[3] Syamsul Ma‟arif, “Konsep Mahabbah Jalaluddin Rumi Dan Implementasinya Dalam Bimbingan Konseling Islam”, (Skripsi Program Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, 2017), hal. 41

[4] Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondidi Sosio-Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, ed. oleh Sigit Jatmiko dkk., keempat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016); hlm. 13

[5] Ribut Harionero, Fundamentalisme Dalam Kristen-Islam (Yogyakarta: Kalika, 2003), hlm 23

[6] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib AlAttas, ed. oleh Hamid Fahmy Zakasyi, 1 ed. (Negara Malaysia: penerbit Universitas Malaya, 2003), hlm. 59

[7] Kumalla, Konsep Mahabbah (Cinta) Dalam ‘Rubaiyat’ Karya Rumi Dan Relevansinya Dalam Pendidikan Agama Islam (Lampung: UIN Raden Intan, 2019), hlm. 46.

[8] Ibid, hlm.46

[9] Permadi, Pengantar Ilmu Tasawuf,( Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997.) hlm.128

[10] A.J. Arberry. Discourses of Rumi. Malaysia(  Thinker‘s Li brary SDN. BHD, 1996.) hlm, 1

[11] Jalaluddin rumi, Masnawi; Senandung Cinta Abadi Jalaluddin Rumi. Edited by penj. Abdul Hadi, ( Yogyakarta: Rausyan Fikr Institute, 2013.)hlm.11

[12] Abdul Hasan An-Nadwi, Jalaluddin Rumi: Sufi Penyair Terbesar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1974), hlm.45.

[13] Hamka, Tasawuf Modern, VII (Jakarta: Republika Penerbit, 2017) hlm.89

[14] Kumalla, Konsep Mahabbah (Cinta) Dalam ‘Rubaiyat’ Karya Rumi Dan Relevansinya Dalam Pendidikan Agama Islam (Lampung: UIN Raden Intan, 2019), hlm, 46.

[15] Ibid, hlm, 46

[16] Rifa‘i, Bachrun. dkk. Filsafat Manusia, ( Bandung: Pustaka Setia, 2010.) hlm.103

[17] William L. Reese, Dictionary of Philosophy and Religion, (New Jersey: University Press, 1996), hal. 541.

[18] Andi nurbaethy, esensi manusia dalam pemikiran jalaluddin rumi, ( jurnal aqidah: vol V no 1 thn 2019 ) hlm, 96-99

[19] Edi Sumanto, “Esensi, Hakikat, Dan Eksistensi Manusia”,( dalam El Afkar : Sebuah Kajian Filsafat, Vol. 8 Nomor 2, Juli-Desember 2019,) hAL. 64

[20] Syamsul Ma‟arif, “Konsep Mahabbah Jalaluddin Rumi Dan Implementasinya Dalam Bimbingan Konseling Islam”, (Skripsi Program Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, 2017), hAL,1

[21] Hisnuddin, “Pendidikan Cinta Kasih Perspektif Jalaluddin Rumi”, (Tesis Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, 2020), hAL. 2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epistemologi: Fondasi Pengetahuan Manusia dalam Konteks Modern

Psikologi Uang: Analisis Kritis atas Buku "The Psychology of Money" oleh Morgan Housel

UPAYA GURU MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA UNTUK MENGHADAPI ERA GLOBALISASI 4.0 PADA KELAS 10 DI SMA PLUS NURUL MUBIN IWAN