UPAYA GURU MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA UNTUK MENGHADAPI ERA GLOBALISASI 4.0 PADA KELAS 10 DI SMA PLUS NURUL MUBIN IWAN

 



Abstrak

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IMTEK) semakin berkembang, sehingga siswa dituntut untuk berfikir kreatif. Perkembangan IMTEK berpengaruh pada dunia pendidikan. Penelitian ini menggunakan jenis deskriftif kualitatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui upaya guru dalam membangkitkan minat belajar di era revolusi industri 4.0 di SMK plus nurul mubin. Pengumpulan data yang penulis lakukan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Data yang terkumpul akan dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dalam proses uji keabsahan data, penulisan menggunakan triangulasi untuk menarik sebuah kesimpulan dan mendapatkan data yang valid. Indikator yang digunakan untuk mengukur minat belajar adalah ketertarikan untuk belajar, perhatian dalam belajar, motivasi belajar dan pengetahuan. Berdasarkan analisis regresi, diperoleh hasil bahwa minat belajar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dapat ditingkatkan melalui peningkatan minat belajar siswa. Artinya semakin baik minat belajar siswa akan berdampak pada hasil belajar siswa yang semakin baik.

Kata kunci: upaya guru, minat belajar, revolusi industri 4.0

Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan dan hambatan terus menerus menghantam sistem pendidikan dan menuntut suatu perubahan terutama dalam pendidikan. Hal ini disebabkan dari waktu ke waktu tuntutan dan kebutuhan manusia terus mengalami perubahan.Dengan demikian, era globalisasi ini pendidikan tidak hanya dituntut fungsi dan perannya saja melainkan juga harus menyesuaikan dengan kondisi dan tantangan di era globalisasi.Diperlukannya kesiapan untuk mengubah visi pendidikan menjadi smart people, bekerja untuk mencapai keunggulan, dan pemberdayaannya.

Hidup manusia sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Teknologi misalnya banyak menghasilkan mesin dan alat-alat seperti jam, mesin jahit, mesin cetak, mobil, kapal terbang, dan lain sebagainya, agar manusia dapat hidup lebih mudah, aman, dan senang dalam lingkungannya.Alat-alat tersebut juga menimbulkan macam-macam bahaya yang dapat merusak dan membahayakan hidup manusia. Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam pendidikan.

Saat ini arus perkembangan globalisasi telah banyak membawa perubahan terutama dalam persoalan pendidikan karakter. Di abad ke 21 ini kita telah memasuki era generasi revolusi industri 4.0 atau dikenal dengan generasi millennial. Adanya gawai menjadi salah satu hal yang menandai lahirnya generasi millennial.[1] Gawai sebenarnya lebih tepat diartikan sebagai peralatan teknologi canggih, sehingga kehidupan masyarakat saat ini tidak terlepas dari unsur teknologi informasi. Ini menunjukan seolah-olah berbagai macam peralatan high technology tersebut telah menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat saat ini.[2]

Penemuan kertas, mesin cetak, radio, film, TV, komputer dan lain-lain itu dimanfaatkan bagi pendidikan. Pada hakikatnya alat-alat tersebut tidak dibuat khusus untuk keperluan pendidikan, akan tetapi alat-alat tersbut ternyata dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat di era globalisasi saat ini tidak bisa dihindari lagi pengaruhnya terhadap dunia pendidikan.

Disisi lain, era revolusi 4.0 selalu memberikan perubahan-perubahan secara cepat yang terkadang sulit untuk diikuti oleh masyarakat awam.Untuk mengantisipasi adanya dampak negatif/buruk dari kemajuan IPTEK dan laju arus modernisasi yang sangat cepat,maka individu harus segera sadar dan melindungi diri dengan berbagai kemampuan ilmu pengetahuan disetiap diri individu.Individu dituntut untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan yang berbasis pendidikan karakterdan menjadi pilar utama bagi pendidikan nasional, sehingga dapat mengambil peran sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang profesional dibidang pendidikan yang menjunjung tinggi konsep akhlaqul karimah. [3]

Nilai-nilai karakter (character building) peserta didik menjadi poin yang sangat penting dari tugas pendidikan. Istilah karakter (character) berasal dari bahasa Yuanani “charassian” yang berarti ”to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga jika orang itu rakus, tukang bohong, korupsi, pemarah, semena-mena dan berperilaku jelek lainnya, maka dikatakan orang tersebut memiliki karakter yang buruk. Begitupun sebaliknya, jika orang tersebut berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah moral maka disebut dengan orang yang berkarakter mulia.[4]

Dalam sejarah pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan generasi dengan tuntutan masyarakat, pembelajaran sebagai proses belajar yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran. Terwujudnya kehidupan masyarakat yang berpegang teguh kepada akhlak tidak bisa lain kecuali dengan pendidikan, khususnya pendidikan agama islam. Secara umum pendidikan agama islam membentuk kepribadian muslim, sehingga nabi menempati posisi yang sangat penting dalam pendidikan.

Minat  memiliki  peranan  yang  sangat  penting dalam    kehidupan    siswa    dan    mempunyai dampak yang besar terhadap sikap dan prilaku.Siswa yang berminat terhadap kegiatan belajar akan  berusaha  lebih  keras  dibandingkan  siswa yang  kurang  berminat  dengan  belajar.  Minat sangat    besar    pengaruhnya    terhadap    hasil belajar,  karena  apabila  bahan  pelajaran  yang dipelajari  tidak  sesuai  dengan  minat,  siswa tidak  akan  belajar  dengan  baik  sebab  tidak menarik baginya.[5]

Minat memberikan pengaruh positif terhadap pembelajaran akademik, domain pengetahuan dan bidang studi tertentu bagi individu. Hidi dan Renninger meyakini bahwa minat mempengaruhi tiga aspek penting dalam pengetahuan seseorang yaitu perhatian, tujuan dan tingkat pembelajaran. Berbeda dengan motivasi sebagai faktor pendorong pengetahuan, minat tidak hanya sebagai faktor pendorong pengetahuan namun juga sebagai faktor pendorong sikap. [6]

Selanjutnya pengertian minat belajar adalah sikap ketaatan pada kegiatan belajar, baik menyangkut perencanaan jadwal belajar maupun inisiatif melakukan usaha tersebut dengan sungguh-sungguh. Bergin menyebutkan bahwa konsep minat terdiri dari minat individu dan situasional. Minat individu didefenisikan sebagai minat mendalam pada suatu bidang atau kegiatan yang timbul berdasarkan pengetahuan, emosi, pengalaman pribadi yang sudah ada, dan merupakan keinginan dari dalam diri untuk memahami sehingga menimbulkan pengalaman baru. Selanjutnya menurut Alexander minat situasional timbul secara spontan, sementara  dan adanya rasa ingin tahu yang terinspirasi atau dipengaruhi oleh lingkungan.

Garcia menyatakan tiga model sebagai faktor yang membedakan minat situasional, pertama memicu minat situasional, kedua mempertahankan minat situasional menyangkut perasaan dan ketiga memelihara minat situasional sebagai nilai. Minat belajar dapat diukur melalui 4 indikator sebagaimana yang disebutkan oleh yaitu ketertarikan untuk belajar, perhatian dalam belajar, motivasi belajar dan pengetahuan. Ketertarikan untuk belajar diartikan apabila seseorang yang berminat terhadap suatu pelajaran maka ia akan memiliki perasaan ketertarikan terhadap pelajaran tersebut. Ia akan rajin belajar dan terus memahami semua ilmu yang berhubungan dengan bidang tersebut, ia akan mengikuti pelajaran dengan penuh antusias dan tanpa ada beban dalam dirinya. Perhatian merupakan konsentrasi atau aktivitas jiwa seseorang terhadap pengamatan, pengertian ataupun yang lainnya dengan mengesampingkan hal lain dari pada itu. Jadi siswa akan mempunyai perhatian dalam belajar, jika jiwa dan pikirannya terfokus dengan apa yang ia pelajari. Motivasi merupakan suatu usaha atau pendorong yang dilakukan secara sadar untuk melakukan tindakan belajar dan mewujudkan perilaku yang terarah demi pencapaian tujuan yang diharapkan dalam situasi interaksi belajar. Pengetahuan diartikan bahwa jika seseorang yang berminat terhadap suatu pelajaran maka akan mempunyai pengetahuan yang luas tentang pelajaran tersebut serta bagaimana manfaat belajar dalam kehidupan sehari-hari.[7]

Berangkat dari fakta tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang akan di tuangkan dalam bentuk jurnal dengan judul “ UPAYA GURU DALAM MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI 4.0 KELAS 10 DI SMA PLUS NURUL MUBIN DI NW IWAN “  yang akan dituangkan dalam bentuk jurnal.

Metode penelitian

Menurut sugiono dalam bukunya yang berjudul metode penelitian kuantitatif,kualitatif dan R&D mendefinisikan kualitatif sebagai penelitian yang menganalisis data secara induktif dan lebih menekankan pada proses daripada otcome.[8]di  samping itu, menurut juliansyah noor penelitian kualitatif adalah proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan sebuah metodologi yang menyelidiki tentang penomena sosial masalah manusia.[9]

Menurut sugiyono, Penelitian kualitatif digunakam untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.[10] Selain itu, Metode penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang ilmiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan) analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil kualitatif peneliti lebih menekankan makna dari pada generalisasi.[11]

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data yaitu observasi pada beberapa jurnal nasional dengan menentukan komponen-komponen yang akan diteliti berdasarkan kelompok unit analisis. Instrumen penelitian yaitu lembar observasi dengan pengkodean.[12]

Hasil dan pembahsan

1.      Era globasi 4.0

Globalisasi jika dilihat dari segi bahasa bermula diambil dari kata globe yang bermakna dunia, sehingga globalisasi dapat diartikan sebagai cara dalam mengubah dunia. Menurut Smith globalisasi didefinisikan sebagai suatu cara dalam memperlihatkan sesama manusia yang kemudian menghasilkan sebuah kejadian yang muncul di sekelilingan kemudian dampaknya akan tertuju kepada interaksi atau perbuatan manusia baik individu maupun sekelompok manusia di daerah yang lain.[13]

Globalisasi sering dikaitkan dengan era 4.0 dimana pemanfaatan teknologi menjadi sesuatu yang sudah biasa penggunaan nya dalam kehidupan sehari-hari. Situasi dunia saat ini sangat berbeda dengan situasi sebelumnya. Kedepannya, perubahan tersebut sebenarnya juga akan mengikuti gaya hidup masyarakat.[14] Modernisasi mengubah banyak kehidupan selama periode itu. Perkembangan kebutuhan hidup manusia disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berubah dari waktu ke waktu.[15]

 Di Indonesia terlihat bahwa salah satu hal terpenting yang dilakukan kaum kapitalis dalam mengejar hasratnya adalah dengan sadar menciptakan “kebutuhan” baru dalam kehidupan masyarakat. Kapitalisme mendorong setiap orang untuk terus menerus mengkonsumsi. Kapitalisme cenderung menciptakan citra bahwa orang sukses memiliki banyak hal. Orang membeli barang yang tidak lagi mereka butuhkan hanya untuk memuaskan keinginan mereka untuk mengeluarkan uang terlalu banyak. Semakin tinggi keperluaan hidup seseorang, maka akan semakin tinggi pula tuntutan gaya hidupnya. Salah satu ciri era modern yaitu gaya hidup. Setiap orang yang hidup pada masyarakat modern memiliki gagasan gaya hidup guna memberi gambaran terhadap perbuatan mereka sendiri dan orangorang di sekitar mereka. Gaya hidup merupakan pola perbuatan yang memisahkan individu dari yang lain. Gaya hidup atau way of life juga bisa dimengerti sebagai segala sesuatu yang mempunyai ciri, ciri dan langkah bertindak terhadap masyarakat tertentu.[16]

2.      Upaya guru dalam membangkitkan minat belajaar siswa di Era Revolusi Industri 4.0

Minat  memiliki  peranan  yang  sangat  penting dalam    kehidupan    siswa    dan    mempunyai dampak yang besar terhadap sikap dan prilaku.Siswa yang berminat terhadap kegiatan belajar akan  berusaha  lebih  keras  dibandingkan  siswa yang  kurang  berminat  dengan  belajar.  Minat sangat    besar    pengaruhnya    terhadap    hasil belajar,  karena  apabila  bahan  pelajaran  yang dipelajari  tidak  sesuai  dengan  minat,  siswa tidak  akan  belajar  dengan  baik  sebab  tidak menarik baginya.[17]

Minat memberikan pengaruh positif terhadap pembelajaran akademik, domain pengetahuan dan bidang studi tertentu bagi individu. Hidi dan Renninger meyakini bahwa minat mempengaruhi tiga aspek penting dalam pengetahuan seseorang yaitu perhatian, tujuan dan tingkat pembelajaran. Berbeda dengan motivasi sebagai faktor pendorong pengetahuan, minat tidak hanya sebagai faktor pendorong pengetahuan namun juga sebagai faktor pendorong sikap. [18] Adapun di Sma Plus Nurul Mubin guru melakukan inovasi yang brvarian dalam menbangkitkan minat para siswa, diantara upaya yang dimaksud diantaranya:

a.       Google Class Room

Google Classroom merupakan sistem manajemen pembelajaran untuk sekolah-sekolah dengan tujuan memudahkan pembuatan, pendistribusian dan penilaian tugas secara paperless. Google Classroom berperan sebagai media atau alat yang dapat digunakan oleh pengajar dan siswa untuk menciptakan kelas online atau kelas secara virtual, dimana guru dapat memberikan pengumuman maupun tugas ke siswa yang diterima secara langsung (real time) oleh siswa tersebut. Untuk Google Classroom, sistem yang digunakan tidak hanya website namun juga dalam bentuk aplikasi yang dapat digunakan dalam smartphone dimana akun dari siswa yang menggunakan akan login secara terus menerus sehingga jika guru memberikan materi, tugas atau pengumuman, siswa dapat menerima notifikasi secara otomatis selama pengaturan g-mail diaktifkan.[19] kepala sekolah Sma Plus Nurul Mubin mengemukakan kemukakan oleh:

Di sekolah nurul mubin ini, siswa mulai diajarkan bagaimana menggunakan smarfhone  yang baik dan beretika, inovasi ini mulai dilakukan semenjak adanyan wabah covid 19 yang mengharuskan pembelajaran harus dilakukan dengan daring. Gogle clas room addalah salah satu yang digunakan untuk melakukan pembelajaran selama covid dan untuk mengantisipasi perkembangan revolusi industri 4.0[20]

Berdasarkan hasil observasi peneliti, guru-guru di Sma Plus Nurul Mubin bukan hanya sebagai pmbimbing, bahkan lebih dari itu guru sebagai fasiliator. Guru memfasilitasi kegiatan pembelajaran lewat zoom metting dan mengorganisir pembelajaran tersebut. Guru memberikan arahan tentang penggunaan gogle clasroom kemudian semua siswa mengikuti arahan dari seorang guru dan kemudian pembelajaran dan materi disampaikan oleh seorang guru.[21]

b.      Berfikir kreatif

Ada empat karakter berpikir kreatif menurut Torrance yakni (1) Originality yakni keunikan dari ide yang diungkapkan; (2) Fluency yakni kemampuan untuk menciptakan ide sebanyak-banyaknya; (3) Flexibility yakni kemampuan untuk mengatasi rintangan mental saat mengeluarkan ide. Ini ditunjukkan dengan tidak adanya ide yang sama saat seseorang diminta mengungkapkan ide atau pendapatnya; (4) Elaboration ditunjukkan oleh sejumlah tambahan dan detail pada setiap ide sehingga stimulus sederhana menjadi lebih kompleks. Untuk melihat sejauh mana siswa bisa berpikir kreatif guru haruslah menyajikan materi-materi yang bisa merangsa pemikiran mereka, menyajikan masalah yang otentik sehingga siswa bisa memunculkan banyak ideide.Karena semakin banyak ide yang dimunculkan maka semakin besar peluang untuk mendapatkan ide yang bagus.

Kreatif pada dasarnya terbagi dalam tiga bidang utama: 1) Orang atau individu, 2) sebuah produk atau hasil dan 3) proses. Artinya sebuah kreativitas bukan hanya faktor genetik atau keturunan namun kreativitas bisa dilatihkan kepada siswa pada jenjang pendidikan apapun (Play Group, SD, SMP, SMA bahkan di Perguruan Tinggi sekalipun). Karenanya kemampuan berpikir akan dapat dilatihkan pada siswa dengan memunculkan masalah-masalahsehingga membawa dampak yang positif bagi peserta didik dan lingkungan sekitarnya. Sementara menurut Gregor mengukur kemampuan berpkir kreatif siswa dapat pula dilakukan dengan mendasarkan pada yang dikomunikasikan siswa, secara verba maupun tulisan.[22]

Di lingkungan Sma Plus Nurul Mubin berfikir memiliki yang sangat krusial, hal ini dapaat diliat dari program yang dibuat oleh sekolah untuk menunjang berfikir kreatif sebagai contoh adalah program ekstra kurikulernya. Tidak hanya itu, guru juga selalu memberika stimulus kepada siswanya untuk selalu berfikir kratif dan inovatif hal ini dilakukan didalam maupun luar kelasnya.[23]

Disamping itu, seorang guru di Sma Plus Nurul Mubin juga memberikan tanggapan tentang berfikir kreatif itu sendiri, beliau berkata:

Meransang siswa untuk Berfikir kreatif adalah salah satu tugas yang diemban oleh seorang grur, oleh sebab itu disini, kepala sekolah membuat program yang bertujuan untuk menstimulus rasa berfikir kreatif itu sendiri, tujuannya tidak lain yakni untuk mengembangkan minat belajar siswa. “

c.       Media belajar

Kata media menurut bahasa latin adalah bentuk jamak dari kata medium yang bermakna pengantar atau perantara. Sedangkan media jika digabungkan dengan pembelajaran maka dapat didefinisikan sebagai sebuah perantara informasi yang mana dikaitkan kepada pendidik atau peserta didik sebagai penerima informasi yang bertujuan dalam menstimulus para peserta didik agar termotivasi serta dapat mengikuti proses kegiatan belajarnya secara utuh dan bermakna,8 dan juga dapat diartikan pula media pembelajaran merupakan sebuah sistem atau sarana yang dapat dilakuakan guru dalam membantu menyampaikan pembelajaran agar berjalan sesuai dengan yang diharapkan.[24]

Media pembelajaran adalah salah satu dari lima komponen penting yang harus ada dalam suatu kegiatan pembelajaranan, karena ketika guru menyampaikan bahan ajar dibutuhkan setidaknya satu media dalam menyampaikannya. Fungsi dari media pembelajaran selain sebagai alat bantu guru dalam mengajar juga sangat menunjang peserta didik dalam menerima pembelajaran dengan baik sehingga minat belajarnya akan terdorong dengan sendirinya.[25]

Minat belajar siswa juga besar dipengaruhi oleh media belajar yang digunakan oleh guru, media memiliki varian yanag banyak. Di sekolah Sma Plus Nurul Mubin guru menggunakan media yang berbeda-beda, sebagai contohnya guru PAI menggunakan media pembelajaran visual daan audio dengan cara siswa diperintahkan untuk melihat dana mendengar video yang sedang diputar guru yang berkaitan dengan materi yang diajarkan, kemudian siswa disuruh untuk mempraktikkan apa yang dia dapatkan dari media audia dan visual tersebut.[26]

d.      Lingkungan Belajar

Lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik. Lingkungan sekolah teridiri dari para guru, staf administrasi, dan teman-teman sekelas peserta didik serta lingkungan sekolah secara fisik. Lingkungan sekolah secara fisik seperti, sarana dan prasarana di dalam kelas, keadaan gedung sekolah dan sebagainya. “Faktor lingkungan sekolah yang mempengaruhi belajar meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah”.[27]

Di lingkungan sekolah Sma Plus Nurul Mubin, peserta didik akan berinteraksi dengan sesama peserta didik, guru dan warga sekolah yang lainya. Namun masih ada beberapa peserta didik yang kurang mampu dalam berinteraksi dengan teman sebayanya ataupun dengan gurunya, karena peserta didik masih merasa malu ataupun minder. Sehingga mempengaruhi minat belajar peserta didik. Apabila hal ini tidak segera diatasi, maka peserta didik akan mendapatkan hasil belajar yang kurang optimal. Minat belajar peserta didik juga dapat dipengaruhi oleh metode mengajar guru. Guru harus mampu menggunakan metode-metode mengajar yang menarik dan dapat mengaktifkan peserta didik. Metode mengajar yang tepat dan bervariasi akan mampu membangkitkan minat belajar peserta didik serta membantu pemahaman materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.[28]

 

 

Kesimpulan

Dari pemaparan materi diatas, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa:

1.      Sma plus nurul mubin melakukan inivasi dalam mengantisipasi perkembangan revolusi industri 4.0 dengan mengembangkan minat belajar siswa.

2.      Guru Sma Plus Nurul Mubin melakukan inovasi yang brvarian dalam menbangkitkan minat para siswa, diantaranya, gogle classroom, berfikir kreatif, media belajar, dan lingkungan belajar.

3.      Berdasarkan hasil penelitian peneliti maka Plus Nurul Mubin bisa dikatakan telah mampu mengantisipasi terjadinya revolusi industri 4.0 dengan sangat baik, dan memilikipengaruh yang nyata bagi para siswanya.

Daftar pustaka

Hendayani, Meti, 2019, problematika Pengembangan Karakter Peserta Didik di Era 4.0, ( Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Vol.7,No.2,Di akses di: https://doi.org/10.36667/jppi.v7i2.368 )

Anwar, 2018, Pendidikan Islam dalam Membangun Karakter Bangsa di Era Milenial. (jurnal:  Al-Tazkiyyah, vol.9,No.2 )

Mushfi El Iq Bali, Muhammad, 2020, Modernisasi Pendidikan Agama Islam Di Era Revolusi Industri 4.0, ( momentum: Jurnal Sosial dan Keagamaan Volume 09 No. 1 )

Riwahyudin, Arvi,2016, Pengaruh Sikap Siswa Dan  Minat Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Sekolah Dasardi Kabupaten Lamandau ( jurnal pendidikan dasar, vol 6, no 1 )

Hadi, dan  Farida, 2012, Pengaruh Minat, Kemandirian, dan Sumber Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran ( Jurnal Pendidikan Ekonomi Dinamika Pendidikan , vol 7, no, 1 )

Nurhasanah, Siti, dan sobandi,2016,  minat belajar sebagai determinan hasil belajar siswa, ( jurnal pendidikan menejemen perkantoran, vol 1, no 1 )

Sugiyono, 2016, metode penelitian kuantitatif,kualitatif, dan R&D ( bandung, alfabeta )

Noor, Juliansyah,2016, MetodologiPenelitian, ( Jakarta, KencanaPrenadaMedia Group )

Moleong, Lexy J., 2002,  Metodelogi Penelitian Kualitatif, (  PT. Remaja Rosdakarya )

Kurniawati, Anisa, et all, 2019, Analisis Efektifitas Multimedia Interaktif Dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi Industri 4.0 ( jurnal pndidikan pembelajaran fisika, vol, 5, no 2 )

Nursusanti, Desi Nugrahane,et all, 2021, Kedudukan Teknologi Pendidikan Islam, ( Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial , edisi Vol 3, No 3 )

Herdiati, Dani Nur Saputra Dian, et all, 2021, Pemanfaatan Aplikasi TikTok Sebagai Media Pembelajaran Musik di SMAN 1 Muara Enim, Sumatera Selatan, ( Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik , edisi Vol 2 , No 4 )

Ridho, Ahmad et al, Implementasi Pendidikan Multikutural Berbasis Teknologi Dalam Menghadapi Era Society 5.0 , (EDUCASIA: Jurnal Pendidikan, Pengajaran, Dan Pembelajaran 7, no. 3 SE-Articles (di akses pada: 20 juni 2023),pada:  https://doi.org/10.21462/educasia.v7i3.131.

Karmila, Karmila et al, Diskriminasi Pendidikan Di Indonesia,  ( EDUCASIA: Jurnal Pendidikan, Pengajaran, Dan Pembelajaran 6, no. 3 SE-Articles (diakses pada: 20 juni 2023 ), di:  https://doi.org/10.21462/educasia.v6i3.128.

Sihotang, Din Oloan, 2019, Optimalisasi Penggunaan Google Class Room Dalam Peningkatan Minat Belajar Bahasa Inggris Siswa Di Era Revolusi Industri 4.0, ( jurnal tekesnos vol 1, no 1 )

Widia, et all, 2020,  Berpikir Kreatif Merupakan Bagian Terpenting Dalam Meningkatkan Life Skills Di Era Industri 4.0, ( jurna pendidikan ilmu pengetahuan alam, vol 1, no, 1 )

Apriyani, Wienike Dinar Pratiwi Evi, 2022, Penggunaan Aplikasi TikTok Sebagai Media Pembelajaran Menulis Teks Prosedur Kompleks Di Era Pandemi Covid-19, ( Jurnal Bahasa Indonesia Prima edisi vol 1, no 4 )

Aji, Wisnu Nugroho, 2018, Aplikasi TikTok Sebagai Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, (Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia,)

 

 



[1] Meti hendayani, problematika Pengembangan Karakter Peserta Didik di Era 4.0, ( Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Vol. 7, No. 2, 2019, Di akses di: https://doi.org/10.36667/jppi.v7i2.368 ) hlm. 185

[2] Anwar, S. Pendidikan Islam dalam Membangun Karakter Bangsa di Era Milenial. (jurnal:  Al-Tazkiyyah, vol.9,No.2, 2018 ) hlm. 233–247.

[3] Muhammad Mushfi El Iq Bali, Modernisasi Pendidikan Agama Islam Di Era Revolusi Industri 4.0, ( momentum: Jurnal Sosial dan Keagamaan Volume 09 No. 1 Mei 2020) hlm. 44

[4] Meti hendayani, problematika Pengembangan Karakter Peserta Didik di Era 4.0, ( Jurnal: Penelitian Pendidikan Islam Vol. 7, No. 2, 2019 DOI: https://doi.org/10.36667/jppi.v7i2.368 ) hlm. 184

[5] Arvi Riwahyudin, Pengaruh Sikap Siswa Dan  Minat Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Sekolah Dasardi Kabupaten Lamandau ( jurnal pendidikan dasar, vol 6, no 1, 2016 ), hlm 13

[6] Hadi, S., & Farida,Pengaruh Minat, Kemandirian, dan Sumber Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran ( Jurnal Pendidikan Ekonomi Dinamika Pendidikan , vol 7, no, 1, 2012 ),hlm 13

[7] Siti nurhasanah, dan sobandi, minat belajar sebagai determinan hasil belajar siswa, ( jurnal pendidikan menejemen perkantoran, vol 1, no 1, 2016 ), hlm 131

[8] Sugiyono, metode penelitian kuantitatif,kualitatif, dan R&D ( bandung, alfabeta, 2016 ) hlm. 13

[9] JuliansyahNoor,MetodologiPenelitian, ( Jakarta, KencanaPrenadaMedia Group, ,2011,hal.33-34

[10] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, ( Bandung Alfabeta, , 2011, )hlm 10

[11] Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (  PT. Remaja Rosdakarya, 2002,) hlm 4

[12] Anisa kurniawati, et all, Analisis Efektifitas Multimedia Interaktif Dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi Industri 4.0 ( jurnal pndidikan pembelajaran fisika, vol, 5, no 2, 2019 ), hlm 150

[13] Desi Nugrahane Nursusanti,et all, Kedudukan Teknologi Pendidikan Islam, ( Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial , edisi No 3, Vol 3, 2021), hal, 402–16.

[14] Dani Nur Saputra Dian Herdiati, et al, Pemanfaatan Aplikasi TikTok Sebagai Media Pembelajaran Musik di SMAN 1 Muara Enim, Sumatera Selatan, ( Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik , edisi No 2 , Vol 4 2021), hal,  111–119.

[15] 6 Ahmad Ridho et al, Implementasi Pendidikan Multikutural Berbasis Teknologi Dalam Menghadapi Era Society 5.0 , (EDUCASIA: Jurnal Pendidikan, Pengajaran, Dan Pembelajaran 7, no. 3 SE-Articles (di akses pada: 20 juni 2023),pada:  https://doi.org/10.21462/educasia.v7i3.131.

[16] Karmila Karmila et al, Diskriminasi Pendidikan Di Indonesia,  ( EDUCASIA: Jurnal Pendidikan, Pengajaran, Dan Pembelajaran 6, no. 3 SE-Articles (diakses pada: 20 juni 2023 ), di:  https://doi.org/10.21462/educasia.v6i3.128.

[17] Arvi Riwahyudin, Pengaruh Sikap Siswa Dan  Minat Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Sekolah Dasardi Kabupaten Lamandau ( jurnal pendidikan dasar, vol 6, no 1, 2016 ), hlm 13

[18] Hadi, S., & Farida,Pengaruh Minat, Kemandirian, dan Sumber Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII SMP Negeri 5 Ungaran ( Jurnal Pendidikan Ekonomi Dinamika Pendidikan , vol 7, no, 1, 2012 ),hlm 13

[19] Din Oloan Sihotang, Optimalisasi Penggunaan Google Class Room Dalam Peningkatan Minat Belajar Bahasa Inggris Siswa Di Era Revolusi Industri 4.0, ( jurnal tekesnos vol 1, no 1, 2019),  hlm 78

[20] Hasil wawancara dengan kepala sekolah sma plus nurul mubin, kantor kepala sekolah, 10 juni 2023, 09;30

[21] Hasil observasi, sekolah sma plus nurul mubin, 15 juni 2023, 09:00

[22] Widia, et all, Berpikir Kreatif Merupakan Bagian Terpenting Dalam Meningkatkan Life Skills Di Era Industri 4.0, ( jurna pendidikan ilmu pengetahuan alam, vol 1, no, 1, 2020 ), hlm 2

[23] Hasil observasi, sekolah sma plus nurul mubin, 15 juni 2023, 09:00

[24] Wienike Dinar Pratiwi Evi Apriyani, Penggunaan Aplikasi TikTok Sebagai Media Pembelajaran Menulis Teks Prosedur Kompleks Di Era Pandemi Covid-19, ( Jurnal Bahasa Indonesia Prima edisi no 1, vol 4, 2022), hal .37.

[25] Wisnu Nugroho Aji, Aplikasi TikTok Sebagai Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, (Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia, 2018 ) hal,433.

[26] Hasil observasi, sekolah sma plus nurul mubin, 15 juni 2023, 09:00

[27] Hasil wawancara dengan kepala sekolah sma plus nurul mubin, kantor kepala sekolah, 10 juni 2023, 09;30

[28] Hasil observasi, sekolah sma plus nurul mubin, 15 juni 2023, 09:00

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Epistemologi: Fondasi Pengetahuan Manusia dalam Konteks Modern

Psikologi Uang: Analisis Kritis atas Buku "The Psychology of Money" oleh Morgan Housel