Filsafat Kekuasaan Niccolo Machiaveli
Abad Ke-14 Sampai Dengan Abab Ke-17 Terjadi Renaissans ( Kelahiran
Kembali ). Zaman Renaisans (1350-1600) merupakan masa transisi dalam sejarah
barat antara abad pertengahan dengan abad modern. Istilah Renaissance merupakan
bahasa Perancis yang dalam bahasa Latin disebut re + nasci yang berarti lahir
(rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh sejarawan untuk menunjuk
berbagai periode kebangkitan intelektual khususnya yang terjadi di Eropa, dan
lebih khusus lagi di Italia, sepanjang abad ke-15 dan ke- 16. Istilah ini
mula-mula digunakan oleh sejarawan terkenal, Michelet, lalu dikembangkan oleh
J. Burchkhardt (1860) untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang
bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan dengan periode abad
pertengahan. Karya filsafat pada abad ini sering disebut renaisans.[1] Ciri
utama renaisans ialah humanisme, individualisme, lepas dari agama (tidak mau
diatur), empirisme, dan rasionalisme. Italia merupakan negara yang pertama kali
menyebarkan semangat renaisance yang kemudian menyebar ke seluruh benua eropa. Tahun
1649 lahirlah seorang filosof politik Niccolo Machiavelli yang memiliki peranan
yang penting terhadap jendala kekuasaan saat itu hingga kini. Niccolo Machiavelli lahir di italia, tepatnya
pada 3 mei 1468. Ia merupakan anak keduan dari seorang pengacara terkanal saat
itu yakni Bernardo dan Bartolommea.
Semasa hidupnya Niccolo Machiavelli pernah bekerja untuk pemerintah
di salah satu kantor negeri selama empat tahun, setelah itu Ia ditunjuk sebagai
pejabat tinggi di pengadilan dengan gelar Chancellor and Secretary to the
second Chancery, the Ten Liberty and Peace. Masa inilah yang kemudian meletakan
dasar-dasar pemikiran filsafat machiavelli tentang politik kekuasaan. Karyanya yang paling terkenal adalah The
Prince yang ditulis pada tahun 1513, dan didedikasikan untuk Lorenzo II, karena
dia berharap (namun terbukti sia-sia) akan mendapatkan kemurahan hati Medici, Dan
Discourses, yang ditulis pada tahun yang sama jauh lebih bersifat republik dan
liberal.
Kekuasaan menurut machiavelli bersandar pada pengalaman manusia.
Kekuasaan memiliki otonomi terpisah dari nilai moral. Karena menurutnya,
kekuasaan bukanlah alat untuk mengapdi pada kebajikan, keadilan dan kebebasan
dari tuhan, melainkan kekuasaan sebagai alat untuk mengabdi pada kepentingan
negara. Dalam pemikiran Machiavelli kekuasaan memiliki tujuan menyelamatkan
kehidupan negara dan mempertahankan kemerdekaan.[2] Hai ini
dapat dilihat dalam karyanya The Prince, dimana kekuasaan seharusnya merujuk
pada kepentingan kekuasaan itu sendiri, tidak lain untuk mewujudkan kekuasaan
yang kuat.[3] Ia
menyarankan penguasa, sebagai pemilik kekuasaan negara harus mampu mengejar
kepentingan negara, demi kejayaan dan kebesarannya.
Penguasa harus mampu menjaga kedaulatan negara dari berbagai
ancaman yang mungkin terjadi, untuk itu penguasa harus prioritaskan stabilitas
negara dan selalu dalam kondisi siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan
serangan musuh. Untuk itu penguasa haruslah memperkuat basis pertahanan dan
keamanan negara serta kedaulatan dan kesatuan negara harus diprioritaskan.
Machiavelli berpendapat bahwa seorang penguasa ideal adalah
Archilles yang belajar jadi penguasa dari Chiron. Chiron adalah mahluk
berkepala manusia berbadan dan berkaki kuda dalam mitologi Yunani kuno.
Artinya, seorang penguasa harus memiliki watak manusia dan watak kebinatangan
pada saat yang sama. Machiavelli menulis bahwa dengan belajar dari mahluk
seperti Chiron, penguasa diharapkan bisa mengetahui bagaimana menggunakan sifat
manusia dan sifat binatang. Menggunakan salah satu cara berkuasa tanpa cara
lainnya tidak akan berhasil. Machiavelli menasihatkan sang Pangeran agar dapat dukungan
penduduk, karena kalau tidak, dia tidak punya sumber menghadapi kesulitan.
Tentu, Machiavelli maklum bahwa kadangkala seorang penguasa baru, untuk
memperkokoh kekuasaannya, harus berbuat sesuatu untuk mengamankan kekuasaannya,
terpaksa berbuat yang tidak menyenangkan warganya. Dia usul, meski begitu untuk
merebut sesuatu negara, si penakluk mesti mengatur langkah kekejaman sekaligus
sehingga tidak perlu mereka alami tiap hari kelonggaran harus diberikan sedikit
demi sedikit sehingga mereka bisa merasa senang.[4]
[1] Dagobert D.
Runes. Dictionary of philosophy, (Totowa, New Jersey: Littefield, Adam
& Co., 1971), hlm. 170-271
[2] Rapar, J.H. Filsafat
Politik Plato, Aristotales, Agustinus, Machiavelli. (Jakarta : Raja
Grafindo Persada, 2001). hlm. 430
[3] M.
Sastrapratedja, Frans M. Parera, Sang Penguasa Surat Seorang Negarawan
Kepada Pemimpin Republik. (Jakarta : Gramedia Pustaka Utam, 1991), hlm.87
[4] Faisal D‟
Richie, Pemikiran Machiavelli tentang Politik dan Kekuasaan

Komentar
Posting Komentar