Teori Belajar Berdasarkan Filsafat Pendidikan
1. TEORI BEHAVIORISTIK
Teori belajar Behaviorisme (J.B. Watson) J.B. Watson mengemukakan dua prinsip dasar dalam pembelajaran, yaitu prinsip kekerapan dan kebaruan. Teori Watson ini disebut pula teori classical conditioning yang dipelopori oleh Pavlov, seorang ahli psikologi-refleksologi dari Rusia. Pavlov mengawali teori ini dengan mengadakana percobaan terhadap anjing.
Berdasarkan hasil percobaanya itu, Pavlov mendapatkan kesimpulan bahwa gerakan-gerakan refleks dapat dipelajari dan dapat berubah karena mendapat latihan. Kemudian, gerak refleks tersebut dibedakan menjadi dua, yaitu refleks wajar (unconditioned reflex) dan refleksi bersyarat atau refleksi yang dipelajari (conditioned reflex). Menurut teori ini, belajar adalah proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (respons). Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia adalah hasil conditioning, yakni hasil dari latihan-latihan atau Kebiasaan-kebiasaan bereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidupannya.
Menurut teori belajar behavioristik aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses peruahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol istrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidak nya seseorang tergantung pada faktor-faktor tradisional yang di berikan lingkungan. Beberapa ilmuan yang termasuk pendiri sekaligus penganut behavioristik antara lain adalah Thorndike Warson, Hull Guthrie an Skinner.
2. TEORI KOGNITIVISTIK
Teori ini lebih menekankan proses belajar daripada hasil belajar. Bagi pengalaman kognitivistik belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan dibagun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinamb ungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah tetapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung menyeluruh. Ibarat seseorang yang memainkan musik, tidak hanya memahami not balok pada partitur sebagai informasi yang saling lepas dan berdiri sendiri, tapi sebagai suatu kesatuan yang secara utuh masuk kedalam pikiran dan perasaannya.
Menurut piaget, proses belajar sebenarnya terjadi dari tiga tahapan yaitu, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibirasi (penyeimbang). Piaget berpendapat bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif yang dilalui siswa.
Tahapan tersebut dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap sensori motor, tahap praoperasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal. Piaget juga berpendapat bahwa perkembangan kognitif siswa melalui suatu proses asimilasi dan akomodasi. Di dalam pikiran seseorang, sudah terdapat struktur kognitif atau kerangka kognitif yang disebut skema. Setiap orang akan selalu berusaha untuk mencari suatu keseimbangan, kesesuaian, atau ekuilibrium antara apa yang baru dialami (pengalaman barunya) dan apa yang ada pada struktur kognitifnya.
Piaget juga mengemukakan bahwa selain disebabkan proses asimilasi dan akomodasi diatas, perkembangan kognitif seorang anak juga dipengaruhi oleh kematangan dari otak sistem saraf anak, interaksi anak dengan objek-objek disekitarnya (pengalaman fisik), kegiatan mental anak dalam menghubungkan kerangka kognitifnya (pengalaman fisik), kegiatan mental anak dalam menghubungkan pengalamannya dengan kerangka kognitifnya (pengalaman logicomathematics), dan interaksi anak dengan orang-orang disekitarnya.
Menurut psikologi kognitif, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti sesuatu. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Para psikologi kognitif berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dapat menentukan keberhasilan mempelajari informasi/pengetahuan yang baru.
3. TEORI BELAJAR HUMANISTIK
Bagi penganut teori humanistik, teori belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia. Dari teori-teori belajar seperti behavioristik, kognitif, dan konstruktivistik, teori inilah yang paling abstrak dan paling mendekati dunia filsafat dari pada dunia pendidikan. pada kenyataannya teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa yang bisa diamati dunia keseharian. Karena itu teori ini bersifat eklektik artinya teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri) dapat
tercapai. Sebagai contoh teori belajar bermakna ausubel (meaningful learning) dan taksonomi tujuan belajar Bloom dan Krathwohl diusulkan sebagai pendekatan yang dapat dipakai oleh aliran humanistik (padahal teori-teori tersebut juga dimasukkan dalam aliran kognitif). Empat pakar lain yang termasuk ilmuan kubu humanistik adalah, Kolb, Honey, Mumford, Hubermas dan Carl Rogers.
4. TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK
Teori konstruktivistik memahami proses belajar pembentukan (konstruksi) pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada didalam diri seseorang yang sedang mengetahui dan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari seseorang guru kepada orang lain (siswa). Beberapa pemikiran teori belajar konstruktivistik dapat dipahami pada penjelasan dibawah ini.
Glaserfeld, Dettencourt (1989) dan Matthews (1994),mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki sesesorang (kita) merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Sementara Piaget (1971), mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan ciptaan manusia yang di konstruksikan dari pengalamannya, proses pembentukan berjalan terus -menerus dan setiap kali terjadi rekonstruksi karena adanya pemahaman yang baru. Sedikit berbeda dengan para pendahulunya, Lorsbach dan Tubin (1992), mengemukakan bahwa pengetahuan ada dalam diri seseorang yang mengetahui, pengetahuan tidak dipindahkan begitu saja dari otak seseorang kepada yang lain. Siswa sendiri yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan konstruksi yang telah dibagi sebelumnya.
Adapun Teori belajar Konstruktivisme (Piaget) Menurut teori skema ini, seluruh pengetahuan diorganisasikan menjadi unit-unit, didalam unit-unit pengetahuan ini, disimpanlah informasi. Sehingga skema dapat dimaknai sebagai suatu deskripsi umum atau suatu sistem konseptual untuk memahami pengetahuan tentang bagaimana pengetahuan itu dinyatakan atau pengetahuan itu diterapkan. Menurut teori ini pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari pikiran guru kepada pikiran siswa. Artinya, siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Sehubungan dengan itu, Tasker seperti dikutip oleh Hamzah mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut:
a. Pertama, peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermaka.
b. Kedua, pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.
c. Ketiga, mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Komentar
Posting Komentar